Rahasia Dan Kekuatan Ilmu Hikmah

ILMU HIKMAH | ILMU AMALAN | RAHASIA KEKUATAN DOA | RAHASIA KEKUATAN ZIKIR | METAFISIKA | BERITA ISLAM

loading...
Rahasia Dan Kekuatan Ilmu Hikmah translate
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Panduan Lengkap Tentang Ramadhan | Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap Ramadhan,Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap di Bulan Ramadhan,Panduan Lengkap ibadah Ramadhan,bahasan dan Panduan lengkap Bulan Ramadlan,Download Lengkap Panduan Puasa Ramadhan.  

Panduan Lengkap Tentang Ramadhan | Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan
berita  gembira  itu  disampaikan  pula  kepada  para  sahabatnya  seraya  bersabda:
"Sungguh  telah  datang  kepadamu  bulan  Ramadhan,  bulan  yang  penuh  keberkatan.
Allah  telah  memfardlukan  atas  kamu  puasanya.  Di  dalam  bulan  Ramadhan  dibuka
segala  pintu  surga  dan  dikunci  segala  pintu  neraka  dan  dibelenggu  seluruh setan.
Padanya  ada  suatu  malam  yang  lebih  baik  dari  seribu  bulan.  Barangsiapa  tidak
diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari
kebajikan" (Hr. Ahmad)
Marhaban  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan  suci  itu,  karena kita mengharapkan
agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt.
Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan
yang  banyak  ujian  dan  tentangan.  Ada  gunung  yang  harus  didaki,  itulah   nafsu.
Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak
yang   mengancam,   serta   iblis   yang   merayu,   agar   perjalanan   tidak   dilanjutkan.
Bertambah  tinggi  gunung  didaki,  bertambah  hebat  ancaman  dan  rayuan,  semakin
curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan
saat  itu  akan  tampak  dengan  jelas  rambu-rambu  jalan,  tampak  tempat-tempat  yang
indah untuk berteduh, serta telaga-telaga  jernih  untuk  melepaskan  dahaga.  Dan bila
perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang
musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan
bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam
jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu
menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

agung  ini.  Imam  Ahmad  berkata:  "Sepengetahuan  saya  tak  seorang  pun  ulama
mengatakan i'tikaf bukan sunnat".

Fadhilah (keutamaan) I'tikaf
Abu  Daud  pernah  bertanya   kepada   Imam   Ahmad:   Tahukan   anda   hadits   yang
menunjukkan keutamaan I'tikaf? Ahmad menjawab: tidak kecuali hadits lemah. Namun
demikian  tidaklah  mengurangi  nilai  ibadah  I'tikaf  itu  sendiri  sebagai  taqorrub  kepada
Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para
istri Rasulullah SAW dan para ulama' salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

Macam-macam I'tikaf
I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I'tikaf sunnah
yaitu  yang  dilakukan  secara  sukarela  semata-mata  untuk  bertaqorrub  kepada  Allah
SWT seperti i'tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I'tikaf yang wajib yaitu yang
didahului dengan nadzar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini,
maka aku akan beri'tikaf.

Waktu I'tikaf
Untuk i'tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan
i'tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari,
waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya
aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i'tikaf".

Syarat-Syarat I'tikaf
Orang yang i'tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1.  Muslim.
2.  Berakal
3.  Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas.
Oleh karena itu i'tikaf  tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz
(mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

Rukun-Rukun I'tikaf
1.  Niat (QS. Al Bayyinah: 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
2.  Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh: 187)
Disini  ada  dua  pendapat  ulama  tentang  masjid  tempat  i'tikaf  .  Sebagian  ulama
membolehkan i'tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama'ah lima waktu. Hal
itu   dalam   rangka   menghindari   seringnya   keluar   masjid   dan   untuk   menjaga
pelaksanaan shalat jama'ah setiap  waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i'tikaf itu
dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum'at, sehingga orang yang i'tikaf
tidak perlu meninggalkan tempat i'tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum'at.
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi'iyah bahwa yang afdhol yaitu i'tikaf di
masjid  jami',  karena  Rasulullah  SAW  i'tikaf  di  masjid  jami'.  Lebih  afdhol  di  tiga
masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

Awal danAkhir I'tikaf
Khusus i'tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barangsiapa yang ingin i'tikaf dengan ku, hendaklah ia beri'tikaf pada 10 hari terakhir
Ramadhan" (HR. Bukhori).
10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu
adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i'tikaf
dilakukan  10  malam  terakhir,  yaitu  setelah  terbenam  matahari,  hari  terakhir  bulan
Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab
(disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.
Hal-hal yang Disunnahkan Waktu I'tikaf

Disunnahkan agar orang yang i'tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah
SWT  ,  seperti  shalat,  membaca  al-Qur'an,  tasbih,  tahmid,  tahlil,  takbir,  istighfar,
shalawat   kepada   Nabi   SAW,   do'a   dan   sebagainya.   Termasuk   juga   didalamnya
pengajian,   ceramah,   ta'lim,   diskusi   ilmiah,   tela'ah   buku   tafsir,   hadits,   siroh   dan
sebagainya.  Namun  demikian  yang  menjadi  prioritas  utama  adalah  ibadah-ibadah
mahdhah.  Bahkan  sebagian  ulama  meninggalkan  segala  aktifitas  ilmiah  lainnya  dan
berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

Hal-hal yang Diperbolehkan bagi Mu'takif(Orang yang Beri'tikaf)
1.  Keluar dari tempat i'tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
2.  Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran
dan bau badan.
3.  Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan
kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu
yang  tidak  mungkin  dilakukan  di  masjid.  Tetapi  ia  harus  segera  kembali  setelah
menyelesaikan keperluanya .
4.  Makan,  minum,  dan  tidur  di  masjid  dengan  senantiasa  menjaga  kesucian  dan
kebersihan masjid.

Hal-hal yang Membatalkan I'tikaf
1.  Meninggalkan  masjid  dengan  sengaja  tanpa  keperluan,  meski  sebentar,  karena
meninggalkan salah satu rukun i'tikaf yaitu berdiam di masjid.
2.  Murtad (keluar dari agama Islam) (QS. 39: 65
3.  Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
4.  Haidh
5.  Nifas
6.  Berjima'  (bersetubuh  dengan  istri)  (QS.  2:  187).  Akan  tetapi  memegang  tanpa
syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
7.  Pergi shalat jum'at  (bagi mereka yang membolehkan i'tikaf di mushalla yang tidak
dipakai shalat jum'at)

I'tikaf bagi Muslimah

I'tkaf  disunnahkan  bagi  wanita  sebagaimana  disunnahkan  bagi  pria.  Selain  syarat-
syarat yang disebutkan tadi, i'tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain
sbb:
1.  Mendapat  izin  (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian
hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah
yang mungkin terjadi.
2.  Agar tempat i'tikaf wanita memenuhi kriteria syari'at.
Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i'tikaf adalah masjid. Untuk
kaum  wanita,  ulama  sedikit  berbeda  pendapat  tentang  masjid  yang  dapat  dipakai
wanita  beri'tikaf.  Tetapi  yang  lebih  afdhol-  wallahu  'alam-  ialah  tempat  shalat  di
rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid
wilayahnya.  Dan  masjid  di  wilayahnya  lebih  afdhol  dari  masjid  raya.  Selain  itu  lebih
seiring   dengan   tujuan   umum   syari'at   Islamiyah,   untuk   menghindarkan   wanita
semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid.
Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum'at dan shalat jama'ah di masjid. Dan
seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i'tikaf yang
justru   membutuhkan   waktu   lama   di   masjid   ,   seperti   tidur,   makan,   minum,   dan
sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i'tikaf bagi wanita tidak diperboleh di
masjid. Wanita bisa saja i'tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut
menempel dengan rumahnya, jama'ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan
kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu 'alam.
11.    PANDUAN MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

1.  Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata: Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah
dari bulan Ramadhan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang
hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum
muslilmin. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
2.  Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah
telah mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas
seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum
muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia
keluar untuk shalat 'ied. (H.R: Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa'i)
3.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Abbas  ra.  ia  berkata: Rasulullah saw telah memfardhukan
zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari
perkataan  keji  dan  untuk  memberi  makan  orang  miskin.  Barang  siapa  yang
mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang
siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat 'ied, maka itu berarti shadaqah seperti
shadaqah   biasa   (bukan   zakat   fithrah).   (H.R:   Abu   Daud,   Ibnu   Majah   dan
Daaruquthni)
4.  Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi
saw. bersabda: Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan
di bawah  (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu  (keluarga
dll) dan  sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan
(yang di perlukan oleh keluarga) (H.R: Al-Bukhary dan Ahmad)
5.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Umar  ra.  ia  berkata:  Rasulullah sw. memerintahkan untuk
mengeluarkan  zakat  fithrah  unutk  anak  kecil,  orang  dewasa,  orang  merdeka  dan
hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu).
(H.R: Daaruquthni, hadits hasan)
6.  Artinya: Diriwayatkan dari Nafi' t. berkata: Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat
fithrah) kepada mereka yang menerimanya  (panitia  penerima  zakat  fithrah  /  amil)
dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum
'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)
7.  Diriwayatkan dari Nafi': Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang
mengeluarkan  zakat  fithrah  kepada  petugas  yang  kepadanya  zakat  fithrah  di
kumpulkan (amil)  dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa:
1.  Wajib  bagi  tiap  kaum  muslimin  untuk  mengeluarkan  zakat  fithrah  untuk  dirinya  ,
keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak
kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil: 1,2 dan 5)
2.  Yang  wajib  mengeluarkan  zakat  fithrah  adalah  yang  mempunyai  kelebihan  dari
keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil: 4)
3.  Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum
muslimin. (dalil: 3)
4.  Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok(di negeri kita adalah beras) sebanyak
lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil: 1 dan 2)
5.  Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut:
a.  Bila  diserahkan  langsung  kepada  yang  berhak  (fakir  miskin  muslim)  waktu
penyerahannya adalah sebelum shalat 'ied yakni malam hari raya atau setelah
shalat Shubuh sebelum shalat 'iedul fitri. (dalil: 2 dan 3)
b.  Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah  (orang yang bertugas mengumpulkan
zakat  fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya 'iedul
fitri. (dalil: 6 dan 7)
6.  Zakat fithrah disyari'atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari
perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil: 3

12.    PANDUAN SHALAT 'IEDUL FITHRI DAN 'IEDUL ADHHA

1.  Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata: Adalah Nabi saw. pada hari raya 'iedul fitri
dan  'iedul  adhha  keluar  ke  mushalla  (padang  untuk  shalat),  maka  pertama  yang
beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap
kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau
memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau
ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah
selesai beliu pergi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
2.  Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat 'ied bersama Nabi saw. beliau
memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai
beliau  berdiri  bertekan  atas  Bilal,  lalu  memerintahkan  manusia  supaya  bertaqwa
kepada    Allah,    mendorong    mereka    untuk    taat,    menasihati    manusia   dan
memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan
selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R: Muslim)
3.  Diriwayatkan  dari  Ibnu  Umar  ra.  ia  berkata:  Umar  mendapati  pakaian  tebal  dari
sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw.
lalu berkata: Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari
raya  dan  untuk  menerima  utusan.  Maka  beliaupun  menjawab:  Sesungguhnya
pakaian ini adalah bagian orang-orang  yang  tidak  punya bagian di akherat  (yakni
orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)
4.  Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami
keluar  pada  'iedul  fitri  dan  'iedul  adhha  semua  gadis-gadis,  wanita-wanita yang
haidh, wanita-wanita  yang  tinggal  dalam  kamarnya.  Adapun  wanita  yang  sedang
haidh  mengasingkan  diri  dari  mushalla    tempat  shalat  'ied),  mereka  meyaksikan
kebaikan  dan  mendengarkan  da'wah  kaum  muslimin  (mendengarkan  khutbah).
Saya  berkata:  Yaa  Rasulullah  bagaimana  dengan  kami  yang  tidak  mempunyai
jilbab?   Beliau   bersabda:   Supaya   saudaranya   meminjamkan   kepadanya   dari
jilbabnya. (H.R: Jama'ah)
5.  Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. ia berkata: Adalah Nabi saw. Tidak berangkat
menuju   mushalla   kecuali   beliau   memakan   beberapa   biji   kurma,   dan   beliau
memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)
6.  Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata: Adalah Nabi saw keluar untuk shalat 'iedul
fitri  sehingga  makan  terlebih  dahulu  dan  tidak  makan  pada  shalat  'iedul  adhha
sehingga beliau kembali dari shalat 'ied. (H.R:Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
7.  Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk
shalat  'iedul  fitri  dua  raka'at,  tidak  shalat  sunah  sebelumnya  dan  tidak  pula
sesudahnya. (H.R: Bukhary dan Muslim)
8.  Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata: Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat
'ied  ke  mushalla,  beliau  menyelisihkan  jalan  (yakni  waktu  berangkat  melalui  satu
jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R: Bukhary)
9.  Diriwayatkan  dari  Yazid  bin  Khumair  Arrahbiyyi  ra.  ia  berkata:  Sesungguhnya
Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat
'iedul  fitri  atau  'iedul  adhha,  maka  beliau  mengingkari  keterlambatan  imam,  lalu
berkata: Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti
ini sudah selesai mengerjakan shalat 'ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah
pada shalat dhuha. (H.R: Abu Daud dan Ibnu Majah)
10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari  seorang pamannya dari
golongan  Anshar,  ia  berkata:  Mereka  berkata:  Karena  tertutup  awan  maka  tidak
terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum,
kemudian  datanglah  satu  kafilah  berkendaraan  di  akhir  siang,  mereka  bersaksi
dihadapan  Rasulullah  saw.bahwa  mereka  kemarin  melihat  hilal.  Maka  Rasulullah
saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan
keluar menunaikan shalat 'ied pada hari esoknya. (H.R: Lima kecuali At-Tirmidzi)
11.  Diriwayatkan  dari  Azzuhri,  ia  berkata:  Adalah manusia  (para  sahabat) bertakbir
pada  hari  raya  ketika  mereka  keluar  dari  rumah-rumah  mereka  menuju  tempat
shalat 'ied sampai mereka tiba di mushalla  (tempat shalat 'ied) dan terus bertakbir
sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam
ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)
12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz
sbb: (artinya): Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah
dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi
Syaibah dengan sanad shahih)
13.  Diriwayatkan  dari  Amru  bin  Syu'aib,  dari  ayahnya,  dari  neneknya,  ia  berkata:
Sesungguhnya  Nabi  saw.  bertakbir  pada  shalat  'ied  dua  belas  kali  takbir.  dalam
raka'at pertama tujuh kali takbir dan pada raka'at yang kedua lima kali takbir dan
tidak  shalat  sunnah  sebelumnya  dan  juga  sesudahnya.    (H.R:  Amad  dan  Ibnu
Majah)
14.Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata: Adalah Nabi saw.  Dalam shalat kedua hari
raya  beliau  membaca:  Sabihisma  Rabbikal  A'la  dan  hal  ataka  haditsul  ghosiah.
(H.R: Ahmad)
15.  Diriwayatkan  dari  Abu  Waqid  Allaitsi,  ia  berkata:  Umar  bin  Khaththab  telah
menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat 'ied .
Aku  menjawab:  beliau  membaca  surat  (Iqtarabatissa'ah)  dan    Qaaf  walqur'anul
majid). (H.R: Muslim)
16.Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata: Nabi saw. Mendirikan shalat 'ied,
kemudian  beliau  memberikan  ruhkshah  /  kemudahan  dalam  menunaikan shalat
jum'at,  kemudian  beliau  bersabda:  Barang  siapa  yang  mau  shalat  jum'ah,  maka
kerjakanlah. (H.R: Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
17.Diriwayatkan  dari  Abu  Hurairah  ra.  bahwasanya  Nabi  saw.  Bersabda  pada  hari
kamu ini, telah berkumpul dua  hari raya  (hari jum'ah dan hari raya), maka barang
siapa  yang  suka  shalat  jum'ah,  maka  shalatnya  diberi  pahala  sedang  kami  akan
melaksanakan shalat jum'ah. (H.R: Abu Daud)

KESIMPULAN

Hadits-hadits  tersebut  memberi  pelajaran  kepada  kita  tentang  adab-adab shalat hari
raya sbb:
Pakaian
Pada  saat  mendirikan  shalat  kedua  hari  raya  disunnahkan  memakai  pakaian  yang
paling bagus. (dalil: 3)
Makan
a.  Sebelum  berangkat  shalat  hari  raya  fitri  disunnahkan  makan  terlebih  dahulu,  jika
terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.
b.  Sebaliknya pada hari raya 'iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu
sampai selesai shalat 'iedul adhha. (dalil: 5 dan 6)

Mendengungkan Takbir
a.  Pada hari raya 'iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke
tempat   shalat   dan   sesampainya   di   tempat   shalat   terus   dilanjutkan   takbir
didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil: 11)
b.  Pada hari raya 'iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9
Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil: 12)

Jalan yang Dilalui
Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan
jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat 'ied (yakni waktu berangkat melalui satu
jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil: 8)

Bila Terlambat Mengetahui Tibanya Hari Raya
Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka
hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari
esoknya. dalil: 10)

YangMenghadiri Shalat 'Ied
Shalat 'ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita,
baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-
kanak baik laki-laki maupun wanita.  Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi
hadir untuk mendengarkan khutbah 'ied. (dalil:4)

Tempat Shalat 'Ied
Shalat  'ied  lebih  afdhal  (utama)  diadakan  di  mushalla  yaitu  suatu  padang  yang  di
sediakan  untuk  shalat  'ied,  kecuali  ada  uzur  hujan  maka shalat diadakan di masjid.
Mengadakan  shalat  'ied  di  masjid  padahal  tidak  ada  hujan  sementara  lapangan
(padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw.
yang selalu mengadakan shalat 'ied di mushalla  (padang tempat shalat), kecuali sekali
dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan.(dalil: 1 dan 8)

Cara Shalat 'Ied
a.  Shalat  'ied  dua  raka'at,  tanpa  adzan  dan  iqamah  dan  tanpa  shalat  sunnah
sebelumnya dan sesudahnya. (dalil: 1,2 dan 7)
b.  Pada  raka'at  pertama  setelah  takbiratul  ihram  sebelum  membaca  Al-Fatihah,
ditambah  7  kali  takbir.  Sedang  pada  raka'at  yang  kedua  sebelum  membaca  Al-
Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)
c.  Setelah  membaca  Fatihah  pada  raka'at  pertama  di  sunnahkan  membaca  surat
(sabihisma Rabbikal a'la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa'ah / surat ke 54). Dan
setelah membaca alFatihah pada raka'at yang kedua disunnahkan membaca surat
(Hal   Ataka   Haditsul   Ghaasyiyah   /   surat   ke   88)  atau  membaca  surat   (Qaaf
walqur'anul majid / surat ke 50).(dalil: 15)
d.  Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi
nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.
e.  Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk
wanita.
f.   Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil: 1 dan 2 )
WaktuShalat
Shalat 'ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha.
(dalil: 9)
Hari  raya  jatuh  pada  hari  jum'ah  Bila  hari  raya  jatuh  pada  hari  jum'ah,  maka shalat
jum'ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau
imam masjid jami' sebaiknya tetap mengadakan shalat jum'at. (dalil: 16 dan 17)
13.    SPIRITUALISME DAN MATERIALISME

Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan  mengajari naluri (instink) manusia
yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri
perut  yang  selalu  menuntut  untuk  makan  dan  minum  dan  naluri  seks  yang  selalu
bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah
manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan
manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah
spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

Orang-orang yang berorientasi materi  -  terdiri  dari  orang-orang atheis, komunis dan
animisme dan berhalaisme  - mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan
kenhendak  nalurinya  dan  tak  pernah  puas.  Bila  terpenuhi  satu  keinginannya,  timbul
keinginan  baru  begitu  seterusnya.  Sahwat  manusia  bila  sudah  terbakar  maka  akan
mengheret  dari  sedikit  ke  yang  banyak,  dari  banyak  ke  yang  terbanyak.  Allah
mengecamorang-orang seperti ini:
"Biarkanlah  mereka  makan,  dan  bersenang-senang,  mereka  dilalaikan  oleh  angan-
angan dan mereka akan mengetahui akibatnya".(QS Al Hijr 3).
Ayat lain:
"Orang-orang  kafir  mereka  bersenang-senang  dan  makan  seperti  binatang  ternak
makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya".(QS Muhammad 12) Mereka hidup di
dunia  ini  dalam  keadaan  kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, m enghalalkan segala
cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. "Demikian itu
bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong".(QS Ghofir 75)
Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa
pengabdian  kepada  Tuhan  harus  menekan  naluri  seks  mengikis  habis  pendorong-
pendorongnya  dan  mematikannya  yang  juga  diatasi  dengan  mengurangi  makan.
Dengan   kata   lain   mereka   masuk   dalam   kancah   peperangan   melawan   jasad
manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat
dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta
kekayaannya  untuk  memenuhi  sahwat  jasmaninya.  Filsafat  spiritualismenya  telah
lenyap,  bahkan  gereja-gereja  sudah  tiada  lagi  pengunjungnya  walaupun  pada  hari
Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia
Islam.
Agama  Islam  adalah  agama  yang  seimbang.  Ia  menghormati  rohani  dan  jasmani
sekaligus,  ia  memperhatikan  nilai-nilai  ideal  manusia,  tapi  juga  menjamin  kebutuhan
hidup  naluri  duniawinya  asal  dalam  ruang  keutamaan,  ketaatan,  kehormatan.  Ia
membolehkan   manusia   makan   dengan   catatan   dalam   batas   kewajaran   dan
kehormatan.
"Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan
tidak diiringi kesombongan".(HR Bikhari)

Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani.

"Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk
tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan  aku berlindung kepadamu dari khianat, karena
itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan".(HR Abu Daud)

Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat,

"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan?
mereka  berkata:  'Keuntungan  bagi  orang-orang  yang  berbuat  baik  di  dunia  ini  dan
akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa".(QS AN Nahl
Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan
fisikalnya  dengan  mandi  dan  berwudlu,  mensucikan  jiwanya  denga  ruku'  dan  sujud.
Islam  adalah  jasmani  dan  ruhani,  dunia  dan  akherat  dengan  falsafah  puasa.  Islam
menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak
pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani
inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena
ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah:
"Ingatlah   di   waktu  Tuhanmu  berkata  kepada  para  malaiakat:  "Aku  menciptakan
manusia  dari  tanah,  dan  setelah  aku  sempurnakan  aku  tiupkan  kedalamnya  ruh-Ku,
maka hormatlah kalian kepadanya".(QS ShAd 71-72)
Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan
yang  memuliakannya  atas  seluruh  makhluknya.  Mereka  itu  akan  bersyukkur  kepada
pemberi   nikmat,   sementara   ada   manusia-manusia   yang   melupakan   Tuhannya,
melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.
Demikian   juga   halnya   kebudayaan.   Kebudayaan   yang   memegang   kendali   alam
sekarang  ini  telah  melupakan  Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki
kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan
menentukan  hak-hak  manusia  disamping  hak-hak Allah  -kebudayaan  Islam-. Puasa
Ramadhan  sebagaimana  Rasulullah  jelaskan  dapat  mengangkat  derajat  pelakunya
menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku
yang indah ditengah-tengah masyarakat.
"Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan
aib.  dan  jangan  berbicara  yang  tiada  manfaatnya  dan  bila  dimaki  seseorang  maka
berkatalah, 'Aku berpuasa'". (HR. Bukhori).
Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat,
mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia
dengan  wahyu,  dan  mengaitkan  dunia  dengan  kitab  yang  menerangi  jalannya  dan
menetukantujuannya

14.    SEJENAK BERSAMA PEMUDA
Wahai  pemuda  Islam!  Jalanmu  penuh  rintangan,  laut  jiwamu  dalam  tak  berhingga.
Puasa bagimu merupakan benteng penahan. Tidak seorang pun yang mampu kecuali
mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas,
dan  rela  berkorban.  Peliharalah  lidahmu,  karena  tidak  ada  sesuatu  pun  yang  dapat
membuat manusia tersungkur ke dalam api neraka kecuali karena buah mulut mereka
sendiri. Jangan berghibah, kendalikanlah matamu dari pandangan was-was al-khonnas
Bukankah kamu tahu bahwa Rasul Saw pernah bersabda:
"Siapa yang berpuasa, hendaklah mengendalikan pendengaran dan penglihatannya".
Oleh karena itu, jadikanlah ucapanmu berupa dakwah ilallah, pendengaranmu hanya
untuk mengingat Allah. Dengan begitu di dalam dirimu terhimpunlah kesenangan dunia
dan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
Sesungguhnya  puasa  zhohir  ditandai  dengan  berakhirnya  siang,  yaitu  ketika  mulai
tenggelamnya  matahari  di  tempat  istirahnya.  Shoum  kembali  ke  keadaan  semula
dengan  rasa  gembira  tatkala  berbuka.  Ini  dialami  semua  orang  yang  shoum.  Akan
tetapi puasa orang-orang yang muttaqin yang penuh keikhlasan, tidak berujung. Tidak
berakhir dengan ghurub dan tidak dimulai dengan syuruq. Tidak dapat dihitung dengan
bilangan jam dan tidak pula mempunyai batas waktu.
Engkaulah pengendali yang terpercaya atas dirimu dan atas diri saudara-saudaramu.
Itulah 'amanah' dari ujian itu. Bagaimana seandainya engkau melalaikannya, terlepas
dari  ceruk  hatimu  di  tengah-tengah  bersliwerannya  berbagai  godaan  dan  pemikat-
pemikat? Apakah akan kau biarkan berlalu dan bahkan terlepas dari dirimu? Tidakkah
kau merasa perlu kembali memperhatikan janjimu kepada Allah, yang mendatangkan
pahala begitu besar? Ialah amanah puasa yang sebenar-benarnya.
Wahai pemuda yang amil! Kita berpuasa jika telah melihat bulan. Tetapi sesungguhnya
yang kuinginkan darimu wahai pemuda, lebih dari sekadar itu, sedikit atau banyak di
atas mustawa (level) itu tadi jika memang kamu mampu. Mintalah tolong kepada Maha
Pemberi  Kemampuan,  yang  memberi  apa  saja  kepada  orang  yang  dikehendakiNya.
Aku mengharap agar engkau sebelum melihat bulan, melihat pencipta dari bulan itu.
Sungguh, alangkah tingginya martabat ini, dimana banyak orang yang tak kuasa untuk
meraihnya.  Tetapi  dengan  izin  Allahjugalah  mereka  berhasil  melampauinya.  Jika
memang engkau telah berazam (bertekad), maka tawakkallah. Engkau, wahai pemuda!

Jika berpuasa karena melihat bulan, memang akan mendapatkan pahala sebagaimana
halnya kebanyakan orang. Akan tetapi, engkau mempersiapkan dirimu dengan shoum
itu  untuk  beramal  (bekerja)  fi  sabilillah,  menyebarkan  misi(risalah)Nya,  mengemban
dakwah, serta jihad yang begitu malah lagi mulia. Tempatkanlah segala sesuatunya di
jalan Allah, pasti segala kesulitan yang ada akan menjadi ringan, dan agar kau selalu
berada di dalam barisanNya.
Aturlah barisan. Pemuda di samping pemuda, pemudi beriringan dengan pemudi, orang
tua  dengan  orang  tua.  Aku  menginginkan  sekali  agar  engkau  tidak  sampai  hanya
sekedar   melihat   bulan,   akan   tetapi   terus   dan   teruslah   melangkah   lebih   jauh.
Bersihkanlah hati dan sinarilah keyakinanmu itu, agar kau dapat menyaksikan pencipta
dari  bulan  itu.  Inilah  rencana  dan  tujuan,  awal  dari  akhir.  KepadaNya  jugalah  kita
kembalikan segala urusan.
Sesungguhnya berpuasa karena melihat bulan memang betul menurut ibadah. Tetapi
berpuasa  dengan  hati  yang  bersinar,  ruh  yang  tenang,  dan  nurani  yang  cemerlang
adalah puncak kekuatan ibadah yang dituntut dari dirimu. Yaitu irodah yang apabila
disertai tekad dan ketulusan tujuan, sesaat pun tidak akan pernah menjadi lemah dan
pudar.  Tak  sedetik  pun  mundur  dari  kewajiban-kewajiban  yang  sulit  diukur  dengan
bilangan waktu itu. Irodah yang senantiasa beriringan dengan amal untuk menanggung
kesulitan dengan hati yang penuh, bersama melakukan jihad di tengah beragamnya
medan-medan jihad; jihadun-nafs, jihad melawan musuh yang zholim.
Dengan melalui jenjang-jenjang jihad tersebut, dengan tangan bila mampu dan dengan
lisan bila sanggup, berarti dirimu telah berhasil menjaga keutuhan imanmu. Hingga tak
sesuatu pun yang bisa mengikisnya. Adalah sesuatu yang begitu menggembirakan saat
kita berbuka, lapar telah terobati, haus telah pergi. Tetapi ada yang lebih dari sekedar
itu, lebih menyenangkan dan menggembirakan, yaitu bertemunya diri kita dengan Allah
pada  hari  perhitungan  (Yaumul  Hisab)  kelak.  Tidak  mungkin  dicapai  tingkatan  ini
kecuali oleh orang-orang yang berpuasa karena Allah dan hanya untuk Allah.
Sungguh,  aku  tidak  berbicara  dengan  telinga  kasatmu,  tapi  aku  bicara  dengan  hati
sanubarimu.  Dengan  persamaanmu  yang  paling  dalam  agar  rela  berkorban  di  jalan
Allah,  tanpa  mengharap  upah  dan  pamrih.  Puasalah,  karena  Allah  menghendakimu
untuk berpuasa, hanya itu. Beban ini sungguh berat bagimu, tanggung jawab ini begitu
besar, dan hambatannya penuh ranjau serta tingkat kesulitannya begitu tinggi. Tidak
akan  berhasil  dan  tidak  akan  menang  terkecuali  hatimu  telah  tergetar  untuk  hanya
mengharap ridho Allah, serta perasaanmu telah terdorong untuk mendapatkan husnul
khotimah.
Aku menginginkan pengorbanan yang cukup mahal darimu, di mana kemenangan bagi
dienmu  tidak  akan  tercapai  tanpa  melalui  jalan  ini.  Sungguh,  sesungguhnya  musuh-
musuh  Islam  akan  dengan  segala  daya  upaya  ingin  menghancurkan  segala  yang
berharga yang ada pada dirimu. Dan aku ingin sekali melihat dirimu berada pada posisi
As-Shiddiqie, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari
itu? Allah Yang Maha Pemurah mengetahui betul bahwa puasa itu sulit, tidak mungkin
dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang jiwanya bersih dari kotoran-kotoran dan
virus.
Karena rahmatNya jugalah Allah memberikan rukhshoh kepada orang yang sakit, orang
yang  bepergian  dan  orang  yang  haidh  agar  berbuka.  Tetapi  dengan  syarat  untuk
mengqodhonya bila telah memungkinkan. Demikian alternatif daripada dispensasi yang
diberikan  Allah,  seperti  yang  tertulis  dari  firmanNya:"Dan  puasa  kamu  itu  lebih  baik
untuk  kamu,  jika  kamu  mengetahui".  Berbukalah  kamu  dengan  rukhshohKU,  tidak
mengapa,  karena  AKU  senang.  Manfaatkanlah  rukhsohKU  sebagaimana  engkau
melaksanakan azimahKU. Tetapi yang Kuinginkan darimu itu adalah yang lebih baik,
lebih  utama,  lebih  mulia  dan  lebih  bermanfaat  bagi  kamu. Yaitu berpuasa, walaupun
syarat-syarat  rukhsoh  itu  telah  terpenuhi,  terkecuali  orang  yang  haidh,  tanpa  ada
penyakit yang menimbulkan bahaya.
Diprioritaskannya  ibadah  puasa  karena  itu  lebih  baik  bagi  kita.  Di  mana  letaknya
kelebihan-kelebihannya  itu?  Hanya  Allahlah  yang  tahu,  ketika  Dia  mengakhiri  ayat
tersebut dengan firmanNya: "Jika kamu mengetahuinya".
Yang  jelas  dan  pasti,  kita  mengakui  bahwa  yang  terbaik  itu  adalah  apa-apa  yang
dipilihkan  Allah  untuk  kita.  Karena  hanya  Dialah  Yang  Maha  Mengetahui.  Tidak ada
satu pun yang dapat menyamai dan menyaingiNya. Maka untuk dirimu, pilihlah yang
terbaik  dan  terindah,  karena  Allah  tidak  menjadikan  kesulitan  bagi  kita  di  dalam
beribadah    kepadaNya.    Kewajiban-kewajiban    itu    dibebankan    sesuai    dengan
kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Nah, di sinilah medan uji coba itu.
Di  depan  kita  terbentang  beberapa  tingkatan-tingkatan  kemuliaan  beserta  rangking-
rangking  penghargaanNya.  Silahkan  kita  akan  memilih  yang  mana,  dan  dimana  kita
mau menempatkan diri. Nun di sana ada Syurga Na'im, siapa saja yang memasukinya
pasti merasa aman dan nyaman. Ada pula Al-Firdaus,  Al-A'la. Dan ada pula syurga
yang tak mungkin dapat dilukiskan oleh hanya sekedar pena. Kita saat ini hanya bisa
menyebutkan nama-namanya saja, tidak lebih. Ada pun hakekat dari nama-nama yang
begitu indah itu masih ada di dalam impian dan harapan. Sejenak saja, aku ingin selalu
bersamamu wahai pemuda, di dunia ini banyak sekali hiasan pemikat yang berkaitan
dengan tuntutan hidup. Tuntutan mencari popularitas, jabatan, harta dan kesenangan
duniawi  yang  begitu  semu  dan  melenakan.  Maka  dengan  puasa,  kuharapkan  dirimu
mampu  untuk  menahan  semua  pemikat-pemikat  semu  itu.  Kembali  bersama-sama
menegakkan Islam.

Demikianlah  Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap Ramadhan.
Judul Berkaitan Dengan artikel ini : Panduan Lengkap Puasa Ramadhan,Panduan Lengkap di Bulan Ramadhan,Panduan Lengkap ibadah Ramadhan,bahasan dan Panduan lengkap Bulan Ramadlan,Download Lengkap Panduan Puasa Ramadhan
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Ramadhan dengan judul Panduan Lengkap Tentang Ramadhan | Panduan Lengkap Puasa Di Bulan Ramadhan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://ilmuamalan.blogspot.com/2013/07/panduan-lengkap-tentang-ramadhan.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Pelita Hati -
loading...
loading...